[Wawancara Khusus] Helmy Yahya: Beri Waktu 2 Tahun agar TVRI Kembali Jadi Idola

Publik menjulukinya si “Raja Kuis”.

Jakarta, IDN Times- Mendengar nama Helmy Yahya biasanya pikiran akan langsung melayang ke berbagai program kuis yang mengasah kemampuan otak untuk berpikir. Saking banyaknya program kuis yang lahir dari tangan dinginnya, maka gak heran kalau publik menjulukinya si “Raja Kuis”.

Tapi, belakangan pria berusia 55 tahun itu memilih lebih banyak berada di belakang layar. Ia lebih memilih mengarahkan menantunya untuk mengelola production house miliknya bernama Triwarsana. Helmy juga masih sempat mengisi waktu dengan menjadi MC, pembicara di berbagai acara terutama yang membahas mengenai dunia televisi dan komunikasi. Bahkan, ia juga menulis buku.

Tapi, kini Helmy memiliki kesibukan baru yang orang gak prediksi sebelumnya. Sejak akhir tahun 2017 lalu, ia terpilih menjabat sebagai Direktur Utama stasiun TVRI. Terpilihnya Helmy, usai ia gagal tiga kali ikut dalam Pilkada di kampung halamannya, Sumatera Selatan.

Karena bertekad ingin membangkitkan kejayaan TVRI, Helmy langsung berhenti dari kegiatannya sebagai MC. Ia mengaku ingin fokus mengurus TVRI.

IDN Times diakui Helmy sebagai media pertama yang diterimanya untuk wawancara. Di kantornya yang luas di area Senayan, ia bercerita bagaimana rencana besarnya untuk merombak total TVRI.

“Beri saya waktu dua tahun,” ujarnya kepada IDN Times beberapa waktu lalu soal targetnya menjadikan TVRI kembali menjadi idola publik.

Stasiun televisi milik publik ini kadung diasosiasikan dengan banyak konotasi negatif. Penuh birokasi, korupsi dan programnya yang monoton.

Padahal, dulu ia sempat menjadi andalan bagi warga di daerah terpencil, karena banyak programnya yang mendidik. Kamu generasi tahun 1990an pasti juga sempat menikmati berbagai program khas TVRI seperti Dunia Dalam Berita, Keluarga Cemara, Siti Nurbaya hingga komedi boneka Si Unyil.

Kepada IDN Times, Helmy mengaku sempat gamang ketika diminta seorang rekan untuk ikut dalam proses seleksi sebagai salah satu direksi di TVRI. Tapi, melihat kondisi stasiun televisi yang pernah jadi kebanggaan publik itu terkapar, ia mengaku tak rela.

Maka, ia tetap berkomitmen mengikuti proses seleksi dan terpilih sebagai Direktur Utama.

Penasaran mengenai rencana besar apa aja yang Helmy punyai untuk TVRI? Apa pelajaran yang bisa kamu petik dari kisah hidup Helmy? Yuk simak wawancara khusus IDN Times dengan Helmy Yahya berikut ini:

1. Apa perbedaan ketika Anda terlibat di TVRI sebagai pembuat program kuis dengan posisi Anda kini sebagai pucuk pimpinan?

Sebenarnya saya gak terlibat sebagai creator program. Jadi, puluhan tahun yang lalu, akhir-akhir tahun 1980an saya diajak oleh Ibu Ani Sumadi (untuk bekerja). Bahkan ketika itu saya belum tamat kuliah. Ketika itu kan Beliau ratu dari program kuis.

Beliau kan membuat kuis banyak sekali, ada Gita Remaja, Berpacu Dalam Melodi dan Siapa Dia. Waktu itu, programnya besar sekali, karena tidak ada saingan. Lagipula TVRI ketika itu masih bersiaran tunggal.

Itu pun ketika saya diajak, ada perasaan merasa ‘wow’. Mungkin passion saya di situ. Ketika masih SMP dan SMA, saya kan sekolah di Palembang dan ikut program semacam cepat tepat dan saya menjadi juara. Ketika SMA, saya merupakan juara yang gak terkalahkan, tiga tahun berturut-turut.

Saat itu saya terobsesi dengan trivia (ilmu pengetahun), hingga akhirnya satu hari saya berada di Jakarta dan menyaksikan karya-karya Ani Sumadi. Ketika itu saya sudah kuliah di STAN. Kakak saya, Tantowi Yahya terpilih menjadi host Gita Remaja. Program itu memang mengangkat nama dia.

Gak pernah terbayangkan, karena saya ditawarkan oleh Ibu Ani untuk membantu Beliau. Waktu itu saya diminta untuk membuat soal program Gita Remaja itu. Jadi, I started my career from there.

Tapi, ketika itu masih bekerja paruh waktu karena saya bekerja di Ireng Maulana Production. Saya menjabat manajer keuangan dan akuntansi di sana. Saya juga sering mengantar band-nya Ireng Maulana All Stars, karena mereka yang mengiringi musik di program “Berpacu Dalam Melodi”. Di situ lah untuk kali pertama Bu Ani melihat saya.

Saya ditarik oleh Bu Ani Sumadi untuk bekerja bareng beliau, bukan karena saya adik Tantowi. Tapi, karena saya membantu Ireng Maulana, yang ketika itu sedang ada di puncak masa keemasan. Mereka kan sering tampil di Jak Jazz.

2. Bu Ani tahu kalau Anda adalah adik Tantowi?

Iya dan dia juga tahu kalau saya mensupport data di Ireng Maulana Production. Tetapi, dia ‘melamar’ dan meminta saya pindah. Sempat ada cek-cok antara Mas Ireng dengan Bu Ani, walaupun akhirnya saya direstui pindah untuk bekerja dengan Bu Ani.

Karya saya yang pertama adalah saya mendukung program “Berpacu Dalam Melodi” untuk soal-soalnya. Saya juga diminta untuk membantu program kuis bernama “Serba Prima”, kuis olah raga yang dibawakan oleh Olan Sitompul. Dari membuat soal program kuis, akhirnya saya dipercaya untuk menjadi floor director.

Bu Ani kan bertugas sebagai direktur program di master control. Jadi, saya menjadi penghubung bagaimana MC membawakan acara dengan program director. Saya juga bertugas bagaimana memberi aba-aba acara akan dimulai, mengarahkan penonton untuk bersikap. Waktu itu saya harus hafal banyak lagu.

Uniknya, ketika itu belum ada matador atau alat yang ditulis di layar. Begitu lagunya keluar, maka saya harus menyanyikan lagu tersebut. Kalau gak, maka penonton gak menyanyi. Waktu itu, saya sampai dijuluki “manusia kaset”. FD (floor director) itu adalah orang yang harus menghidupkan suasana.

3. Jadi, perkenalan Anda dengan dunia televisi dilakukan secara otodidak ya?

Iya, karena latar belakang ilmu saya adalah akuntansi dan alumni STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Di TVRI, di studio dua itu lah yang sekarang menjadi Pusdiklat. Di sana, saya belajar dunia televisi hampir selama sepuluh tahun.

4. Bagaimana Anda memperoleh materi untuk ditampilkan di program kuis?

Zaman itu kan belum ada internet seperti sekarang. Jadi, semuanya harus dicari di buku, koran, ke perpustakaan. Saya penggila buku dan Bu Ani memiliki koleksi buku yang cukup lengkap.

Media sosial ketika itu belum ada. Jadi, harus benar-benar riset.

5. Tetapi, ketika Anda membuat pertanyaan untuk program kuis, maka sudah dapat dipastikan itu bisa terjawab ya?

Oh, iya. Salah satu pelajaran yang saya dapat dari Bu Ani adalah seorang quiz maker yang baik adalah yang memberikan kesempatan pesertanya terlihat pintar. Bu Ani mengajarkan kepada saya, penonton itu lebih suka melihat peserta bisa menjawab pertanyaan dibandingkan mematung dan gak bisa memberikan jawaban.

Kami harus bisa membuat soal yang mampu dijawab oleh peserta. Siapa yang menjawab dan betul menjawab, that’s the competition.

Jadi, kadang-kadang kita juga harus tahu background-nya apa, sekolahnya apa, minatnya si peserta itu apa. Penonton gak akan pernah mau melihat orang gagal dan bodoh di layar kaca.

Jadi, kalau sampai ada yang bereaksi, “Wah, kok yang seperti ini malah bisa masuk televisi”, nah itu sudah ada kekeliruan. Itu lah rumus simpel yang diajarkan oleh Bu Ani kepada saya.

6. Apa yang akhirnya mendorong Anda bersedia ikut dalam proses seleksi Direksi TVRI?

Semula, saya gak mau karena saya sudah ada di comfort zone ketika itu. Production house milik saya, Triwarsana, ketika itu sudah berjalan, kemudian saya juga masih disibukkan menjadi MC dan public speaker.

Saya belajar betul dari Jack Ma (CEO Alibaba), yang mengatakan kalau sudah berusia di atas 50 tahun, maka waktunya untuk mendorong pemimpin muda. Saya sudah melakukan itu.

Jadi, ketika berusia 50 tahun dan memiliki dua cucu, saya sempat berpikir, waktunya bagi saya untuk menikmati hidup. Saya banyak travelling dan menikmati diundang ke seluruh Indonesia, bahkan ke luar negeri untuk share banyak hal, dimulai dari komunikasi, kreativitas, kewirausahaan, hingga disruption. Saya bicara tentang pensiun dan menulis buku.

Tetapi, beberapa teman memberikan dorongan agar saya ikut membenahi TVRI, karena sangat disayangkan, ada stasiun televisi yang dibiarkan terkapar dengan aset yang sangat baik. Padahal, kalau bisa dikelola dengan baik sebenarnya stasiun televisi ini bisa maju.

Namun, saya menyadari ada beberapa persoalan kronis di sini seperti tata kelola keuangan, peralatan, SDM, hingga mentalitas pegawai.

Ada beberapa teman saya yang sudah berusaha lebih dulu membangkitkan TVRI namun gak berhasil. Prosesnya ketika itu memakan waktu empat bulan. Saingannya sangat ketat. Yang ikut saat itu hampir 1.600 orang untuk enam posisi yang tersedia.

Ternyata posisi sebagai Direktur Utama itu paling banyak diincar orang dan saya melihat yang masuk untuk ikut bersaing adalah teman-teman saya sendiri. Saya gak tahu motivasi dan latar belakang mereka apa. Tapi kan semua orang berhak mengikuti, karena itu lah proses open bidding.

Bahkan, saya sempat mundur, hingga akhirnya seorang teman mendorong dan bilang, “udahlah Helmy, apa lagi yang dicari? Anda sudah mencapai semuanya, kini waktunya untuk beramal.”

Ya sudah akhirnya saya tetap melanjutkan proses seleksi. Saya juga sempat terkejut malah saya yang terpilih. Dari ribuan orang itu, saya lolos hingga ke tiga besar. Ketika uji kepatutan dan kelayakan di hadapan Dewan Pengawas dan Karyawan, nama saya yang dipilih.

Tanggal 29 November 2017 saya dilantik. Alhamdulilah, direksi yang lain Apni Jaya Putra (Direktur Program Berita), Isnan Rahmanto (Direktur Keuangan), Supriyono (Direktur Teknik), Tumpak Pasaribu (Direktur Umum) dan Rini Padmirehatta (Direktur Pengembangan Usaha) adalah orang-orang yang top serta memiliki integritas yang tinggi.

Empat dari lima direksi saya kenal. Ibu Rini pun orangnya sangat baik, mau belajar. Mereka semua anti KKN, anti korupsi, egaliter dan mau bekerja keras. Direksi yang baru ini bekerjanya luar biasa. Jadi ya wish me luck lah.

7. Padahal kan sebelumnya Anda sempat tiga kali ikut Pilkada tetapi malah banting setir menjadi Direktur TVRI?

Saya itu kan gagal di Pilkada karena saya jaga integritas. Tapi, saya tidak pernah menyesal.That’s part of my life. Tiap kali gagal, saya tahu Tuhan menyiapkan rencana lain yang lebih besar dan rencana itu adalah Direktur Utama TVRI. Di mana saya tidak keluar uang sepeser pun untuk menerima jabatan ini.

Bupati kan jumlahnya ada 500 lebih, sedangkan Dirut TVRI hanya ada satu dan saya memiliki kantor di 29 lokasi. Sementara, di Senayan, saya memiliki kantor yang luas 4,6 hektare. Passionsaya pun di sini ada di televisi.

Kalau saya jadi bupati atau wakil gubernur, belum tentu juga saya bisa perform 100 persen. Sekarang, kalau saya berkunjung ke daerah tetap disambut, artinya demikian besar harapan publik agar TVRI bangkit dan menjadi stasiun televisi publik.

8. Tapi adakah perasaan risih karena Anda memimpin satu stasiun televisi yang dianggap sebagian orang underdog dibandingkan stasiun televisi lain?

Oh, gak lah. Saya malah bangga bisa terpilih sebagai direktur utama. Walaupun, permasalahan yang ada di TVRI itu lebih berat dibandingkan yang ada di pikiran saya sebelumnya. Saya dan lima direksi yang lain, sejak awal niatnya sudah ingin beramal.

Kami menyadari TVRI memang tidak ada di 10 besar stasiun televisi saat ini. Saya sempat terkejut selama satu minggu, karena ada begitu banyak permasalahan administrasi yang harus saya atasi. Saya sempat berbicara dengan direksi dan dewan pengawas. Akhirnya disepakati gaya kepemimpinan kami ubah karena kami belajar dari beberapa pendahulu kami dengan segala macam kelebihan, kekurangan serta permasalahannya. Then we made our own style, kini kami bersikap lebih egaliter, guyub, belajar ke Pak Jonan (Ignatius Jonan mantan Menteri Perhubungan.red) bagaimana dia mampu mengubah PT Kereta Api Indonesia (KAI). Saya juga berdiskusi dengan Arief Yahya, Menteri Pariwisata. Saya belajar banyak bagaimana cara menangani isu SDM.

Walau saya sempat terkejut selama satu pekan, but I get them already after that. Pak Jonan mengajarkan kepada saya bahwa seorang pemimpin harus terlihat oleh yang di bawahnya.

Kami sudah mengambil aliran itu dan menerapkannya. Kami, direksi, muncul di masjid, di kantin. Makan bersama karyawan, saya salami, saya datangi ruangan tempat mereka bekerja, saya tunggui ketika mereka bekerja. Saya juga memberikan banyak tips kepada mereka. Saya percaya kami dipilih dengan cara yang sah dan memiliki amanah untuk mengembalikan kejayaan TVRI.

Kalau dilihat TVRI yang sekarang bisa berada di luar dari peringkat 10 besar, tentu itu menandakan ada kekeliruan dalam pengelolaannya. Tetapi, saya melihat kita memiliki potensi untuk maju, minimal kami enam direksi memiliki komitmen yang sama.

Ini televisi publik, negeri ini membutuhkan orang-orang seperti kami. Saya bekerja untuk TVRI, barang kali mimpinya pun mengenai TVRI. 24/7 itu kami bekerja untuk TVRI.

Sabtu dan Minggu saya ke sini. Kalau pun ada di rumah, saya mengontrol layar. Saya juga ikut menegur kalau ada sesuatu yang gak beres. Seperti contoh, ketika ada presenter di acara pagi yang kelihatan gak semangat, maka akan saya hampiri. Saya mengundang 27 anchor yang ada di TVRI dan memotivasi mereka.

Saya katakan kepada mereka bahwa dulu saya juga pernah ada di posisi mereka, bahkan di bawah lagi. Tetapi, saya bisa menjadi Presiden Direktur dan CEO.

Jadi, saya mengajari bagaimana berbicara dan berpakaian. Saya termasuk detail ya untuk urusan seperti itu, misalnya ketika kalau laki-laki pakai jas dan duduk, maka kancing harus dibuka. Ketika berdiri, maka kancing jas paling bawah yang dibuka. Sampai sedetail itu yang saya perhatikan.

Bagaimana cara bicara dan mengucapkan sesuatu tidak boleh keliru. And they learnt it so muchkarena saya sudah pernah ada di posisi itu. Mereka tahu bahwa orang yang menyampaikan hal tersebut sudah melalui semuanya.

Ketika berbicara dengan cameraman dan tim kreatif, saya menunjukkan berbagai karya yang pernah dibuat dengan rating yang sangat tinggi. Ada tiga program yang sempat masuk top 25 program yakni Uang Kaget, Bedah Rumah, dan Pantang Ngemis.

Pelan-pelan mulai terlihat dan ternyata karyawan bisa diajak berubah.

9. Hal lain yang juga kerap ada di benak orang adalah TVRI merupakan lembaga penyiaran yang penuh dengan praktik korupsi. Bagaimana Anda mengubah persepsi tersebut?

Itu kan masa lalu. Yang sekarang sudah jauh berubah dan penuh integritas. Kami  menjauhi dari permainan yang seperti itu.

Untuk saya pribadi pun, untuk apa merusak nama baik dan reputasi dengan melakukan hal-hal seperti itu. Saya sempat ditanya oleh beberapa orang, apakah ke TVRI untuk mencari uang? Saya tegas katakan tidak. Bahkan, saya rela mengorbankan penghasilan saya. Bisa dikatakan saya ada di TVRI untuk beramal dan Insya Allah, kalau berhasil, saya berharap bisa mewariskan sesuatu.

Oleh sebab itu, kami enam direksi sepakat memiliki komitmen yang sama untuk beramal, berjihad dan membuang perilaku (korup) semacam itu. Pembenahan ke internal juga pelan-pelan dilakukan.

Dan hal itu sudah mulai terlihat hasilnya. Semula, kami yang sempat diblack list di beberapa tempat mulai dihapus. Kami sudah mulai kembali masuk ke lingkungan Istana. Beberapa waktu yang lalu saya diundang untuk bisa mewawancarai Presiden Jokowi di Pulau Rote dan di Kupang. Itu merupakan kehormatan yang luar biasa.

Saya sudah menghadap Wapres Jusuf “JK” Kalla juga. Kadang-kadang diundang oleh beberapa Menteri. Saya sudah juga berkunjung ke Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Artinya, kepercayaan publik pelan-pelan mulai tumbuh. Makanya, kami menggunakan tagar #WeFightBack atau #KamiKembali.

TVRI ini gak pantas diperlakukan demikian. Padahal, ini stasiun televisi yang sangat besar. Maksud tagar itu untuk menyemangati mereka yang di internal perusahaan dan eksternal.

Khusus yang di internal, saya mengajak seluruh karyawan dan keluarga besar TVRI dan saya katakan bahwa kita tidak pantas ada di posisi ini. Saya benar-benar menunggui karyawan bekerja, oleh sebab itu saya bisa pulang kantor jam 23:00 sampai jam 01:00 dini hari. Direktur kami saja ada yang tertidur di studio.

Kalau Anda melihat kualitas produksi kami sudah jauh berubah. Program news kami sangat kuat sekarang. Sebelum wawancara ini terjadi, tadi saya sedang mengawasi program “Ria Jenaka”. Yang ikut program tersebut adalah para komika yang pernah tampil di Stand Up Comedy.

10. Ini bagian dari langkah Anda untuk mengemas ulang program TVRI agar terlihat lebih kekinian?

Iya dan saya tengah menyiapkan program yang sangat dekat dengan generasi milenial namanya “Keluarga Medsos”. Kami juga tengah membuat program “Gue Pancasila”, yang berisi bagaimana anak muda memaknai Pancasila. Barusan saya bertemu dengan Yossie – Project Pop. Dia bercerita bagaimana para YouTuber akan ikut berkreasi di sini.

Kami banyak membuat desain yang lebih dekat ke generasi millenials. TVRI itu televisi publik, milik semua golongan, dan suku. Kami gak boleh terlena, karena mayoritas penonton kami memang usia di atas 40 tahun.

Itu millenials kami, banyak yang kami panggil untuk membuat desain baru dan grafis yang bagus. Seharusnya, beberapa hari ini rating kami sudah sangat tinggi, karena tiba-tiba TVRI ditonton oleh anak kecil dan millenials. Kami memperoleh kehormatan untuk menayangkanopening dan closing Olimpiade Musim Dingin PyeongChang dan ada boyband EXO. Responsnya sangat luar biasa. TVRI ditonton oleh banyak orang.

Jam 20:00 ada program “Memori Melodi” menjadi rumah bagi ratusan penyanyi. TVRI menjadi rumah musik Indonesia. Tiap malam kami live dengan Taman Buaya Music Club. Sudah banyak yang tampil di tempat kami dimulai dari Dua Jingga, Atiek CB, Glenn Fredly. Kami juga menampilkan penyanyi dari Indonesia timur seperti Lana Nitibaskara, Eros Tjokro, you name it, itu semua ada di sini dan penampilan mereka keren banget.

Untuk anak-anak muda saja kami kasih tempat. Ada anak-anak UGM bernama Papuan Voices yang jatuh cinta terhadap Papua saat sedang menjalani program KKN (Kuliah Kerja Nyata). Semua kami berikan tempat.

11. Semua program yang Anda sebut untuk kalangan millenials tadi sudah semuanya tayang?

Sedang dipersiapkan. Pada awal Maret sudah tayang “Ria Jenaka Milenials”. Untuk kalangan orang tua (masa lalu) kita tetap perhitungkan.

Kami akan re-run film “Little House on the Prairie” dan itu mendapatkan sambutan yang luar biasa. Begitu juga dengan film Oshin, Keluarga Cemara. Khusus untuk film Keluarga Cemara, akan kami re-run dan re-make. Kami juga tengah mengerjakan film “Dokter Sartika” kombinasi Dewi Yull dengan dokter-dokter yang masih muda. Looknya juga kami buat millenials.

Kami juga mengerjakan drama Siti Nurbaya tapi ala La-La Land. Kami tengah mengerjakan desain yang besar film Pangeran Diponegoro. Jadi, bisa dibayangkan banyak yang tengah kami kerjakan.

Menurut saya, itulah yang harus kami kerjakan sebagai televisi publik. Kami juga tengah berkeinginan untuk mengangkat kembali program Cepat Tepat. Sebagai televisi publik, kami tengah menyiapkan program dari “Desa ke Desa”. Kalau dulu Sambas, kalau kini ada perempuan cantik millenials dan mau ke desa.

Ya, semua itu kombinasi lah.

12. Anda yakin dengan pendekatan itu bisa masuk ke anak-anak millenials dan generasi Z?

Oh, iya. Kami juga sudah tayang dan bisa ditonton di berbagai channel media sosial, mulai dari Youtube, Facebook. Kami juga punya aplikasi namanya TVRI Click.

Anda bisa melihat anchor kami, lebih fresh dan muda. Ketika berbicara program untuk millenials kan tidak hanya menyangkut content, tetapi bagaimana cara untuk mengemasnya. Tetapi, kami juga tidak boleh melupakan warisan kami ke belakang.

13. Salah satu dari empat gebrakan besar yang ingin Anda buat di TVRI saat dilantik adalah membuat laporan keuangan dengan predikat Wajar Tanpa Pengecualian dari Badan Pemeriksa Keuangan. Anda yakin bisa meraih itu?

Insya Allah, bisa tidak disclaimer tahun ini. Kami juga melakukan gebrakan untuk tata kelola SDM. Gaya manajemen kami di sini sudah diubah dan terbuka terhadap masukan-masukan anak muda.

Beberapa anak muda sudah mulai bergabung ke TVRI. Ya, kami suntikan berbagai semangat di segala lini.

Kami juga tengah memperbarui peralatan kami. Kami pun sedang dalam upaya rebranding untuk mengatasi kesan tua. Sebentar lagi, kami akan memiliki logo dan warna baru. New spirit dan new culture. Itu semua sedang kami kerjakan.

14. Tahun ini kah logo dan warna baru itu akan dikeluarkan?

Ya, harus tahun ini.

15. Dengan semua rencana itu, berapa lama waktu yang kira-kira Anda butuhkan untuk mengembalikan posisi TVRI di top 10?

Kasih saya waktu dua tahun. Kami juga harus memperbaiki profile dari APBN. Kami sudah melakukan TV day, yang baru terjadi kali pertama di TVRI. Banyak pengiklan dan biro iklan besar kami undang untuk menunjukkan apa saja yang tengah kami kerjakan.

Kami sudah melakukan dengan segala keterbatasan yang ada di tahun pertama. Walau anggaran kami yang diberikan sangat kecil, but we don’t give up.

16. Berapa jatah anggaran yang dialokasikan untuk TVRI?

Rp 830 miliar, tidak mencapai Rp 1 triliun. Itu sudah diusulkan sejak tahun 2017, tapi kami sedang berupaya untuk meminta tambahan-tambahan.

Saya juga sudah mulai ke luar negeri dalam rangka mengaktifkan keanggotaan TVRI di organisasi internasional. Kami juga melakukan pertukaran program. Pada akhir Maret, saya berangkat ke Roma untuk menandatangani kerja sama dengan RAI TV Italia, saya juga ke Bonn, Jerman untuk tanda tangan kerja sama dengan Deutsche Welle. Saya juga ke Belanda. Setelah itu, saya akan ke BBC (Inggris) dan VOA (Amerika Serikat).

17. Bagaimana cara Anda menarik kembali anak-anak muda millenials yang condong jarang nonton televisi dan lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial?

Tayangan TVRI kan sudah bisa juga disaksikan secara live streaming. Kami tengah menggodok strategi promosi dan menaruh anchor-anchor anak muda.

Komika-komika, idolanya anak muda juga kemari. Ada beberapa anak muda yang menjadi bintang yang sebentar lagi akan kemari.

Apalagi kalau UU Penyiaran yang baru akan diketuk oleh DPR, maka kami bisa dikatakan televisi yang paling siap menjadi televisi digital. Kami sudah memiliki 63 pemancar di seluruh Indonesia. Jadi, TVRI sudah hebat. Tinggal effort untuk itu.

Kami berjuang bagaimana untuk melakukan promosi. Hal lain yang menarik, ternyata banyak pihak yang masih belum tahu kalau boleh memasang iklan di TVRI. Jadi, pelan-pelan lah.

Saya kan ada di sini juga belum ada enam bulan. Tapi, saya mengusahakan bertemu dengan berbagai orang, termasuk perusahaan-perusahaan besar. Mereka terkejut karena mengetahui TVRI itu luar biasa. Kantor saya aja di Senayan itu seluas 6,4 meter. Ini merupakan properti paling mahal di republik ini. Kami memiliki 29 lokasi plus 28 hektare di Depok. Semua di lokasi titik utama.

Jadi, tidak pantas kami dipandang sebelah mata.

18. Jadi, kalau TVRI memiliki aset yang sedemikian besar tetapi malah tetap dipandang sebelah mata, menurut Anda itu karena salah manajemen saja?

Saya tidak ingin mengomentari itu. Saya tidak ingin melihat kembali ke belakang. Bagi saya, pekerjaan rumah yang saya hadapi adalah bagaimana membangkitkannya.

19. Apa tantangan yang Anda hadapi ketika bekerja hari pertama di TVRI?

Tantangan dan resistensi pasti ada. Tapi, alhamdulilah sekarang kami mendapatkan dukungan penuh.

Saya suka terharu kalau menceritakan kemajuan di TVRI, terutama di bagian SDMnya. Secara moral, mereka berubah. Lihat semangat mereka itu luar biasa.

Saya sudah berkeliling ke berbagai kota tempat TVRI berada untuk membangkitkan semangat mereka. Jadi, saya lebih ke motivatornya. Kami tidak pantas dipandang kecil, because we are so big. Tapi harus mau belajar dan mau mengejar ketertinggalan. Respons dari publik pun sudah mulai mengapresiasi.

20. Sebagai lembaga stasiun penyiaran publik, apakah TVRI dibolehkan untuk mengkritik pemerintah?

Kita sih diperbolehkan kalau memberi masukan kepada pemerintah. TVRI ini televisi publik, kalau ada sesuatu yang harus disampaikan ke pemerintah ya dibolehkan.

Sumber: https://www.idntimes.com/news/indonesia/santi-dewi/wawancara-khusus-helmy-yahya-beri-waktu-2-tahun-agar-tvri-kembali-jadi-idola-1/full

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *